Assalamu'alaikum: 9 Kriteria Aliran Sesat Dalam Islam

Friday, 20 March 2015

9 Kriteria Aliran Sesat Dalam Islam

9 Kriteria Aliran Sesat Dalam Islam


     Berkembangnya fenomena aliran sesat tidak lepas dari kondisi  masalah psikologis baik para tokoh pendirinya, pengikutnya serta masyarakat secara keseluruhan. Masalah aliran sesat ini mengindikasikan adanya pertentangan nilai-nilai di masyarakat. Aliran sesat bukan fenomena yang baru muncul dipermukaan, selain dia mengambarkan pertentangan, juga kemungkinan selalu ada komunitas yang diluar kewajaran. Baik ia berada dalam demografi, sosial, dan psikologis. Sedangkan bentuk ketidak wajaran juga bisa individual, situasional dan sistemik. Pertentangan perilaku individu ini tidak dapat diukur hanya dengan penelaahan satu kriteria, karena bisa saja seseorang ber-kategori wajar dalam pengertian kepribadian tetapi tidak wajar dalam pengertian sosial dan moralitas. Demikian juga para pendiri aliran sesat, akan diperoleh kriteria kategori yang tidak absolut. Yang paling mungkin untuk menyatakan kesesatan ialah defenisi/batasan ketidak sesatan yang bersifat formalitas atau diakui batasan institusional.

PengertianAliran/Paham Sesat
         
     Aliran sesat dapat diartikan sebagai aliran yang menyimpang dari kebiasaan masyarakat, namun batasan ini menjadi meragukan karena kiteria kesesatan bersifat multi tafsir. Oleh karenanya perbedaan pendapat apakah suatu aliran sesat atau tidak merupakan masalah tersendiri yang tidak mudah dan perlu menyamakan definisinya. Oleh karenanya ukuran nilai sosiologis, politis maupun psikologis hanya merupakan alat ukur saja tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi mengapa seseorang/kelompok menjadi bagian bahkan pelopor dari aliran sesat.
        
 
9 Kriteria Aliran Sesat

        Prof. Syed Muhamrnad Naquib al-Attas dikenal luas karena rumusannya: "Islam is the only genuine revealed religion." Islam merupakan satu-satunya agama wahyu yang murni. Agama-agama lainnya selain Islam sudah menjadi agama budaya (cultural religion). Sebagai agama wahyu yang murni, Islam memiliki konsep yang tetap (tsawabit) yang dirumuskan berdasarkan wahyu, dan bukan oleh budaya atau konsensus umat Islam. Islam juga satu-satunya agama yang memiliki "model yang abadi" yang disebut "uswatun hasanah". Karena adanya tsawabit dan dipandu dengan uswatun hasanah yang abadi, maka Islam tetap terjaga keabadiannya sebagai agama wahyu sampai hari kiamat tiba.

      Dengan kondisinya seperti itu, maka umat Islam secara umum dapat mudah menentukan mana yang "lurus" dan mana yang "sesat". Umat Islam paham bagian-bagian ajaran shalat yang wajib dikerjakan oleh seluruh kaum muslimin, tanpa ke-khilafan di dalamnya. Misalnya saja, rukun shalat takbiratul ihram, keharusan kita untuk ruku', sujud, i'tidal, dan sebagainya yang ada dalam rukun shalat. Hal-hal yang "tsawabit" seperti itu adalah merupakan perkara unik, khas dan hanya ada dalam konsep ritual Islam. Dengan konsep sepert itulah, Islam merupakan satu-satunya agama yang diakui keabsahannya oleh Allah SWT. (QS ali imran: l9). Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama wahyu (Islam), maka tidak akan diterima oleh Allah dan di akhirat temasuk orang-orang yang ragu. (QS Ali Imran:85).

      Konsep Islam sebagai agama wahyu juga mempermudah untuk menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Sebab, kriteria sesat atau tidak ditentukan oleh wahyu (Alloh SWT) dan bukan oleh budaya. Tanpa peraturan penguasa, kaum muslim bisa paham, bahwa orang yang mengerjakan shalat tanpa melakukan sujud, pasti termasuk sesat. Ummat yang mengerjakan puasa 3 hari 3 malarn dan bermandikan air tujuh sumur untuk meraih kekuatan bisa dikategorikan melaksanakan ajaran yang tercela(sesat). Sebab hal itu melanggar perkara yang termasuk kategori "ma'luumun minad diin bidh-dharury".
         
     Bagaimana cara menentukan paham atau aliran sesat? Untuk kaum Muslim di Indonesia. 9 kriteria paham/aliran sesat yang dirumuskan Majlis Ulama Indonesia sudah memadai untuk dijadikan pegangan:
Mengingkari rukun iman dan rukun Islam   
  
1 . Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar'i (Alquran dan as-sunah), 
2. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
3. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
4. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
5. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
6. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
7. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
8. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
9. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syara

Cara Mengantisipasi Paham/aliran Sesat

     Disaat isu-isu seputar "aliran sesat" muncul ke publik, maka organisasi sosial keagamaan, masyarakat luas, temasuk pihak pemerintah dan aparat keamanan sangat cepat merespon isu-isu ini dengan berbagai cara. Ada yang dengan cara mengeluarkan fatwa sesat dengan sendirinya, ada yang langsung menyerang para pengikutnya, dan juga ada yang menangkap para pengikut itu dengan dalih pengamanan dan pemeriksaan kepada mereka. Namun, yang sangat disayangkan respon berlebihan justru akan menimbulkan kontra produktif terhadap citra Islam itu sendiri sebagai agama yang santun dan damai. Sebab, tidak sedikit dari respon-respon yang muncul itu lebih bemuansa kebencian. klaim kesesatan, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah outputnya terhadap tindak kekerasan dan teror. Masyarakat umum yang awalnya hanya mengetahui bahwa aliran itu tidak sesuai dengan ajaran lslam pada umumnya, kemudian terprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan yang tidak sepatutnya dilakukan.

     Kekerasan dengan dalih apapun tidak dapat dibenarkan, baik itu menurut agama, etika, maupun prinsip kehidupan berbangsa dan bemegara. Masyarakat sendiri tidak dapat disalahkan begitu saja karena mereka berbuat itu didorong oleh sejumlah faktor penyebab awalnya. Entah itu karena adanya fatwa, ekspos media massa yang amat berlebihan misalnya, atau pernyataan sejumlah organisasi sosial keagamaan yang pada akhirnya ikut mempengaruhi pandangan masyarakat menjadi seperti itu. Jadi, kekerasan sama sekali bukan jalan keluar dari masalah ini.

     Semakin maraknya aliran sesat di berbagai tempat sangat meresahkan kehidupan bermasyarakat. Para ulama kiranya bersikap dan bertindak lebih antipatif dengan keadaan ini sebelum terlambat. Ulama juga diharapkan tidak tinggal diam bila mengetahui keberadaan suatu ajaran agarna yang bisa masuk kategori sesat. Artinya, perlu lebih gencar dakwahnya dan penegakan hukum yang tegas terhadap para pembawa ajaran dan aliran sesat seperti itu. Jangan sampai mereka dibiarkan berkembang dan membuat masyarakat masuk kedalam mereka. Masyarakat yang sudah resah bisa saja mengambil tindakan sendiri yang tidak manusiawi. Kekacauan massa bisa terjadi tiba-tiba mengingat dengan mudahnya masyarakt kita terprovokasi. Yang tak kalah penting adalah penguatan akidah ummat untuk menangkal tersebarnya aliran sesat itu. Lantaran lemahnya akidah mereka dan ninimnya pengetahuan Islam dapat dengan mudah meluasnya aliran sesat dimasyarakat, sehingga para penyebar aliran sesat begitu muda memperdaya mereka dengan dalih agama untuk menyesatkan masyarakat.

     Cara yang cukup elegan dan pintar untuk mengatasi kasus "aliran sesat" adalah melakukan kegiatan demokrasi semacam dialog atau debat publik. Melalui kegiatan ini nantinya pemimpin/pengikut "aliran sesat" akan dihadapkan dengan pengujian terhadap argumentasi pemahaman keislaman mereka. Jika ajaran dan pemahaman yang selama ini mereka pahami dan yakini ternyata keliru dan jauh dari ajaran sebenarnya, maka mau tak mau akan ada proses "penyadaran" secara sendirinya dari para pemimpin/pengikut ajaran tesebut.

     Aliran-aliran semacam itu tidak perlu disikapi secara "berlebihan", baik melalui keputusan dan pernyataan sesat oleh sejumlah organisasi keagamaan atau juga penangkapan terhadap sejumlah pengikut dan pimpinannya. Dengan digelarkan berbagai dialog atau debat antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan kasus "aliran sesat" ini, maka diharapkan nantinya tidak muncul lagi perlu diajak berdialog terlebih dahulu. aksi-aksi kekerasan yang tidak bertanggung jawab.
                           
     Setiap kali ada isu bahwa  aliran A atau B itu sesat. sudah sebaiknya isu ini tidak dilempar ke publik terlebih dahulu. Namun, pihak-pihak yang secara langsung berkepentingan dengan masalah ini, seperti Depag danMUI, perlu melakukan dialog, diskusi, atau debat dengan aliran yang dianggap "sesat" itu. Hingga pada akhimya biarlah "konsensus publik" yang akan menilai apakah aliran ini-itu sesat atau tidak.Tentunya, cara di atas akan terasa efektif karena masyarakat juga akan mendapat pencerahan bahwa kita perlu bersikap santun dan bijak dalam menghadapi aliran-aliran yang cenderung dianggap "sesat" oleh sekompok atau organisasi lain. Proses dialog adalah bagian dari spirit demokratisasi yang perlu dikembangkan lebih lanjut dalam kehidupan keberagamaan kita di tanah air.

Penutup

     Aliran sesat ini mudah sekali menyerang umat lslam, terutama yang imannya selalu goyah. Maka dari itu hal yang paling pertama adalah dengan meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan, maka agama dan lman itu yang akan membentengi kita dari hal-hal menyimpang dan sesat, maka rajin lah untuk berdoa atas keyakinan yang benar, pahami dan perdalam ilmu keagamaan itu. Selain dari iman dan diri sendiri, peran orang tua dan lingkungan terdekat adalah halyang ampuh untuk mem bentengi seseorang dari penyimpangan dan kesesatan. Kita harus bisa menjaga lingkungan sekitar kita agar tidak terjerumus kedalam kesesatan dan penyimpangan, kita harus bisa saling bertoleransi dan mengingatkan satu dengan yang lain, meskipun misalnya kita berbeda keyakinan. Tapi untuk saling mengingatkan tidak pernah ada yang namanya perbedaan. Orang tua juga harus selalu mengawasi dan membimbing anaknya agar dia menyadari mana hal baikdan burukagartidaktersesat dijaIur yang salah.

       

No comments:

Post a Comment