Assalamu'alaikum: Selamat Tinggal Lampu Merah

Wednesday, 18 June 2014

Selamat Tinggal Lampu Merah

Selamat Tinggal Lampu Merah

By Fadly

Aku bukanlah pengemis
Bukan peminta-minta
Sekedar berjualan demi sesuap nasi
Halal yang kucari

Jangan kasihani aku
Dan iba melihat aku
Karena kusadari tak mungkin selamanya
Hidupku begini mencari nafkah

Di sudut jalan ini
Di bawah lampu merah
Bermandi peluh membasah tubuh
Demi sekolahku

Di sudut jalan ini
Di bawah lampu merah
Bermandi peluh membasah tubuh
Tuk meringankan beban orang tua...aa
Tuk sekolah.....aaah....aaa

Tapi semua telah berlalu
Di dalam kehidupanku
Ada jalan yang lain untuk mencari nafkah
Meringankan beban orang tuaku
Haaa...aaa..aa..

Reff.
Selamat tinggal wahai
Semua lampu merah
Biarlah jadi satu kenangan
Dalam hidup ini

Esok kan masih ada
Hari yang lebih cerah
Marilah teman marilah semua
Untuk lebih berkarya dalam hidup ini



Sebuah lagu yang sangat bisa membuat Saya terharu, bukan hanya karena liriknya yang menyentuh tapi terlebih karena Saya sendiri mengalami kisah seperti yang tergambar dalam lirik lagu tsb.

Tepatnya sekitar antara tahun 97/98, ketika Saya masih kelas 2/3 SD. Pengalaman yang tidak bisa Saya lupakan sepanjang hidup Saya dan pengalaman yang secara tidak langsung membuat Saya menjadi tidak malas bekerja selagi itu halal. Bagi Saya itu bukanlah pengalaman yang suram, karena saat ini Saya bisa dengan bangga menceritakan pengalaman hidup Saya.

Ketika teman-teman yang seumuran Saya bangun siang hari karena masuk sekolahnya siang, Saya harus bangun disubuh hari hanya untuk mengambil koran ditempat agen koran dan itupun harus jalan kaki sekitar 1km. Tiap subuh Saya harus bangun dan mandi karena dulu Saya mempercayai kalo dagangan mau laris ya mandi dulu sebelum jualan. Lampu merah pertigaan teknokrat/mall bumi kedaton/pom bensin adalah saksi bisu perjalanan seorang anak penjual koran itu (baca: Roni).

Terkadang pagi jualan, siang sekolah dan sepulang sekolah (sore) jualan lagi, hanya untuk sedikit membantu meringankan beban orangtua yang saat itu memang sangatlah miskin. Ayah Saya dlu hanyalah seorang tukang becak(Saya sambil meneteskan air mata menuliskan kalimat "tukang becak" ini). Sungguh sedih dan tak menyangka mengapa hidup Saya dulu semalang itu :"( . Terimakasih Ya Alloh atas Rahmat yg kau berikan.

Hasil Saya jual koran dulu rata-rata bisa 7-15rb, tak menentu. Tapi berapapun hasil yg Saya dapatkan, yang Saya gunakan untuk jajan hanyalah 2-4rb saja. Sisanya Saya simpan/tabung ke tetangga yg membantu Saya untuk menyimpan uang agar tidak hilang jika ditaruh dirumah. (Terimakasih Uwak Endang yg telah rela menyempatkan waktu dan energi utk membantu menyimpan uang Saya)

Sampai dilain waktu uang yang sudah ditabung terkumpul, dan Saya belikan sepeda. Itupun sepeda butut/second. Ya lumayan, bisa jualan koran kelilingnya pake sepeda, gak jalan kaki lagi. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, dan sepertinya akan terlalu panjang jika dituangkan ke tulisan seperti ini, lumayan capek juga nulisnya.

Yang bisa Saya ambil hikmah dr perjalanan hidup dimasalalu antara lain;
  • Jika kita punya impian, maka kejarlah. Impian tdk melihat siapa dirimu
  • Gunakan uang untuk jajan seperlunya saja, ambil jajan. Sisanya ditabung, bukan sebaliknya.
  • Untuk bekerja, orang yg akan mempekerjakanmu bukan melihat dari ijazahmu, tapi kepercayaannya apakah kau pantas dipekerjakan. (contoh; ayah saya yang SD saja tidak lulus, bisa menjadi satpam sebuah perusahaan)
  • Untuk mendapatkan yg lebih, maka berusahalah yg lebih

Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pelajaran sekaligus penyemangat kita dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang tidak mungkin. Dulu Saya bermimpi untuk punya motor, akhirnya bisa tercapai. Dan kemudian bermimpi untuk punya kendaraan roda empat dan akhirnya tercapai juga. Dan Alhamdulillah itu semua Saya beli pakai uang hasil keringat Saya sendiri dan atas bantuan do'a dari orangtua tercinta.

Terimakasih sudah membaca tulisan yang amburadul ini.
Maafkan jika ada yang salah, dan kepada Alloh Saya mohon ampun.


Semoga bermanfaat,

Salam,

2 comments:

  1. @azhar kompasha : banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini :)

    ReplyDelete
  2. @azhar kompasha : banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini :)

    ReplyDelete